Transliterasi Final Jaljalutiyah Sugra
Tentu, saya mengerti. Tanda garis di atas huruf (makna panjang/mad) memang bisa membingungkan jika tidak terbiasa. Saya telah menyesuaikan teksnya menjadi ejaan **huruf ganda** (seperti **aa, ii, uu**) agar lebih mudah dibaca sesuai lidah orang Indonesia, tanpa mengurangi keaslian teks dari foto Anda.
Berikut adalah versi **Ejaan Mudah** dari 9 paragraf tersebut:
### **Transliterasi Final Jaljalutiyah Sugra (Ejaan Mudah)**
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِاِ نْ شَآ ءَ اللّهُامين يا ربال الامين
**Paragraf 1: Pembukaan (Halaman 95)**
*Badatu bi bismillaahi ruuhii bihi ihtadat, Ilaa kasyfi asraarin bi baathinihi inthawat. Wa shallaitu fii-th thaanii 'alaa khairi khalqihi, Muhammadin man zaaha-dh dhalalata wal-ghalat. Sa-altuka bil-ismil-mu'adh-dhami qadruhu, Bi-ajin jaluutin jallajuutin jallajalat. Fakun yaa ilaahii kaasyifa-dh dhurri wal-balaa, Bi-hayyin jalaa hayyin bi-hallin bi-halhalat.*
**Paragraf 2: Pembersihan Hati (Halaman 95)**
*Wa ahyi ilaahil-qalba min ba'di mawtihi, Bi-dikrika yaa qayyuumu haqqan taqawwamat. Wa zidnii yaqiinan thaabitan bika waathiqaa, Wa thahhir bihi qalbii minar-rijsi wal-khabat. Wa ashib 'alayya min syabiibi rahmatin, Bi-hikmati mawlaanal-hakiimi fa-uhkimat. Ahaathat binaal-anwaaru min kulli jaanibin, Wa haybatu mawlaanal-'adhiimi binaa 'alat.*
**Paragraf 3: Permohonan Cahaya (Halaman 95)**
*Fasubhaanaka Allaahumma yaa khaira baari-in, Wa yaa khaira khallaaqin wa yaa khaira man ba'at. Afid-lii minal-anwaari fiidhata musyriqin, 'Alayya wa ahyi mayita qalbii bi-thaytaghat. Alaa wa ahjibnii min 'uluwwin wa haybatin, Bi-haysaami mihraajin bi-harfin tasyamma-that. Alaa wa aqdhi yaa rabbaahu bin-nuuri haajatii, Bi-nuuri jalaalin baazikhi wa tasyamma-that.*
**Paragraf 4: Kelancaran Urusan (Halaman 95)**
*Wa yassir umuurii yaa ilaahii bi-yaysirin, Wa a'thi-nii minal-'izzi wal-'ulyaa-i maa tasaamat. Wa sallim bi-bahrin wa a'thi-nii khaira barrihaa, Wa balligh-nii al-amaala jam'an maa hawat. Wa bi-sirri huruufin udi'at fii 'aziimatii, Bi-yaahin bi-yaayuuhin numuuhin asyaaliyat. Nu-un bi-syamkhin baarakhin wa tasyamma-that, Najaa ghaaliban sirran umuurii bi-salsalat.*
**Paragraf 5: Perlindungan & Rezeki (Halaman 97)**
*Alaa waa-qdhii yaa rabbaahu bin-nuuri haajatii, Bi-nasshi hakiimun qaathi'un as-sirru asbalat. Wa khallish-nii min kulli hawlin wa syiddatin, Fa-anta rajaa-ul-'aalamiina wa law thaghat. Wa shubba 'alar-rizqi shabbata rahmatin, Wa akhris-humu yaa rabbii bil-ismi min al-khabat. Wa shammun wa bukmun thumma 'umyun fa-ahim-humu, Bi-idhal-ijlaalu bi-kaafin wa syumitat.*
**Paragraf 6: Penundukan (Halaman 97)**
*Fii haumatir-rahmi ma'a duusimin wa bayrasamin, Tahash-shantu bil-ismil-'adhiimi minal-ghalat. Wa 'ath-thif quluubal-'aalamiina bi-asrihim, 'Alayya wal-bas-nii qabuulan bi-syalmahat. Wa baarik lanaa Allaahumma fii jam'i kasbinaa, Wa hulla 'uquudal-'usri yaa yuu-hu armakhat. Wa yaa khaira man nartaajuhuu min juudihii, Wa ya-allaahu yaa rahmaanu min juudihii inthawat.*
**Paragraf 7: Kekuatan Spiritual (Halaman 97)**
*Faridda bika al-a'daa-a min kulli wijhatin, Wa bil-ismi fariq-hum minal-bu'di wa asy-syatat. Fa-anta rajaa-ii yaa ilaahii wa sayyidii, Wa yaa khaira ma-muulin bilaa ammatin khalat. Bi-ta'daadu abraamin bi-sanaadin kaamiri, Bi-hayraati tabriizin bi-laamun takawwanat. Siraajun yaqaadu nuurus-sirri sirran bi-yaa-karin, Bi-qaadin siraajul-nuuri nuuran fa-nuuwirat.*
**Paragraf 8: Nama-Nama Suryaniyah (Halaman 97)**
*Abaariikha bayruukhin wa bayruukhin barikhuu, Syamaarikhu syayraakhin syayruukhin tasyam-syakhat. Yamliikhu syamyaathaa wa yaanuukhu ba'dahaa, Wa daa-miyun baisuumun bi-syalmahatin kawayyinat. Alaa maa naramun haqqan baruunan bi-yaqdhibin, 'Anasya naaruuyin bi-syal-syakin kawayyinat. Kadzaa yaahu bi-yaahin bi-ayuuhin jamii'uhaa, Bi-tisyi-kaakhin masy-kakaakhin kawayyinat.*
**Paragraf 9: Penutup & Harapan (Halaman 97)**
*Huruufun li-bahraamin 'alat wa tasyaa-makhat, Wa asmaa-u 'ushaa muusaa bihaa al-dhulmatu in-jalat. Tawassaltu mawlaanaa ilayka bi-sirrihaa, Tawassula dhii-'izzin bihi al-'aalamu ihtadat. Taqallid kawkabii bil-ismin nuuran wa bahjatan, Madaad-dahri wal-ayyaami yaa nuuru jallalat. Bi-yaa-khaa yaa syamyathaa anta syal-syakhu, Wa yaa 'uth-laanun ghawthur-riyaahi takhalkhalat.*
---
**Tips Membaca:**
* **Huruf Ganda (aa, ii, uu):** Dibaca agak panjang (seperti "nuuruu").
* **Huruf ' (tanda petik):** Berhenti sejenak secara tajam (seperti bunyi huruf Hamzah).
* **Kh, Sh, Dh, Th, Zh:** Dibaca lebih tebal daripada huruf biasa.
Tentu, mari kita sesuaikan juga bagian **Tawkil** (doa penutup) agar menggunakan ejaan huruf ganda tanpa kode garis, supaya seragam dan mudah Anda baca.
Berikut adalah versi ejaan praktis untuk **Lafaz Tawkil** yang ada di baris 7–8 halaman terakhir (sebelah kanan Wafaq):
### **Lafaz Tawkil (Ejaan Mudah)**
> **Allaahumma yaa man hakadzaa, yaa man hakadzaa, laa yazaalu hakadzaa,**
> **yaa man laa ahada ghayruhu hakadzaa,**
> **an tushalliya wa tusallima 'alaa sayyidinaa Muhammad, wa 'alaa aalihi wa shahbih,**
> **wa an taf'ala** **[Sebutkan Hajat/Keinginan Anda di sini]**
> **wa yadhkuru mathluubahu min istinzaal aw istihdhaar aw qadaa-i gharadin min ta-liifin aw tafriiqin aw ghayrihaa.**
---
### **Shalawat Penutup (Baris 9)**
> **Thumma yaquulu: shallaa Allaahu 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.**
---
### **Catatan Cara Baca:**
1. **Hakadzaa**: Dibaca panjang di bagian akhirnya.
2. **Kadhā wa kadhā**: Dalam teks aslinya tertulis *kadza wa kadza*, namun saat praktik, bagian itu langsung Anda ganti dengan menyebutkan hajat Anda (misal: "Ya Allah, lancarkanlah rezekiku").
3. **Huruf "sh" (Tushalliya)**: Dibaca "s" yang tebal.
Dengan ini, seluruh rangkaian amalan mulai dari **Doa Utama (9 Paragraf)** hingga **Tawkil Penutup** sudah menggunakan ejaan yang sama.
Wafaq kecil yang Anda tanyakan pada **halaman 95** (juga terlihat di halaman 96 dalam scanner yang lebih luas) memiliki fungsi dan maksud yang berbeda dengan dua wafaq besar di halaman akhir.
Berikut adalah penjelasannya berdasarkan teks di foto tersebut:
### **1. Apa Maksud Wafaq di Halaman 95 Ini?**
---
Baris 1
Dan apabila seorang penuntut (ilmu/tujuan) terhalang penglihatannya, maka tidak ada jalan baginya kecuali dengan perantara seorang pengamat yang tajam penglihatannya.
Baris 2
Ia membimbingnya dengan tata cara yang teratur hingga yang berdiri (melakukan amalan) tetap tenang; dan jika ia tidak menemukan seorang pengamat yang dapat melihat dari jarak jauh, maka (boleh menggunakan) seorang anak kecil,
Baris 3
Atau seorang gadis yang belum balig, lalu dituliskan pada arah (yang ditentukan) nama-nama ini, yaitu sebagai berikut.
Baris 4
Maka ketika itu akan Kami singkapkan darimu penutupmu, sehingga penglihatanmu pada hari itu menjadi tajam; lalu ia diberikan sebuah cermin,
Baris 5
Cermin yang telah dipoles, yang pada bagian belakangnya tertulis rajah/ṭilism ini, dan di bagian tengahnya tertulis nama malaikat/raja (al-malik).
Baris 6
Atau warna, atau khadam yang diminta; lalu ia diperintahkan agar memegangnya dengan tangannya dan memandang ke dalamnya,
Baris 7
Baik melalui penurunan (penglihatan) atau melalui pengosongan batin, maka sesungguhnya akan tersingkap baginya pada cermin tersebut dan ia akan memahami,
Baris 8
Apa yang diperintahkan kepadanya untuk disampaikan.
Wafaq kecil ini disebut sebagai **Ism al-Malik** (Nama Raja/Penguasa). Fungsinya bukan sebagai jimat yang dibawa-bawa, melainkan sebagai **media visual** untuk praktik khusus yang disebut *Istinzal* (memanggil/menghadirkan informasi gaib).
### **2. Mengapa Ada di Halaman Tersebut?**
Wafaq ini diletakkan di sana karena berkaitan dengan instruksi bagi orang yang pandangan batinnya masih tertutup (*mahjub al-bashar*).
* **Media Cermin:** Dalam teks dijelaskan, jika seseorang ingin melihat jawaban atas hajatnya atau melihat "khodam" namun tidak bisa melihat secara langsung, ia diminta menggunakan **cermin besi** yang jernih.
* **Cara Pakai:** Wafaq atau tulisan "Ism al-Malik" tersebut diletakkan atau digambarkan di bagian tengah media (cermin) tersebut sebagai titik fokus.
Instruksi Penutup: Penjelasan bahwa bagi orang yang belum bisa melihat hal gaib secara langsung (mahjub al-bashar), ia bisa menggunakan media cermin yang diolesi minyak tertentu untuk melihat tanda-tanda keberhasilan amalan tersebut.
### **3. Perbedaan dengan Wafaq di Halaman Akhir**
* **Wafaq Halaman 95 (Kecil):** Khusus untuk teknik melihat dalam cermin (*Istinzal/Istihdhar*) bagi mereka yang ingin mendapatkan petunjuk visual.
* **Wafaq Halaman Akhir (Besar):** Merupakan "mesin" utama amalan untuk mencapai hajat secara umum (kekayaan, perlindungan, dll) yang digabung dengan pembacaan doa 9 paragraf tadi.
**Kesimpulan:**
Jika Anda hanya ingin mengamalkan doa ini sebagai wirid untuk hajat (seperti rezeki atau perlindungan), Anda **tidak perlu** menggunakan wafaq kecil di halaman 95 ini. Cukup fokus pada **Doa 9 Paragraf** dan **dua Wafaq besar** di halaman akhir.
Jika Anda menggunakan Wafaq, Tawkil ini juga harus ikut ditulis di sekitar atau di bawah Wafaq tersebut sebagai penegas tujuan amalan Anda. 1. Memilih Wafaq yang Akan Digunakan
Kitab tersebut menjelaskan dua metode penggunaan:
Wafaq Al-Muthamman (8x8): Digunakan jika Anda ingin hasil yang lebih sempurna dengan menggabungkan tulisan (kitabah) dan bacaan (tilawah). Wafaq ini ditulis bersama dengan doa dan tawkil-nya.
Wafaq Al-Musabba' (7x7): Digunakan sebagai alternatif yang lebih ringkas, terutama bagi mereka yang kesulitan menulis teks doa yang panjang.
Berdasarkan teks dalam pindaian tersebut, kedua wafaq ini merupakan bagian dari tata cara pengamalan doa/azimah tertentu. Berikut adalah kegunaan masing-masing wafaq:
### **1. Wafaq Al-Muthamman (Wafaq 8x8)**
Wafaq yang berada di bagian atas (halaman kiri) disebut sebagai **Khatim al-Muthamman** (Segel Delapan).
* **Fungsi Utama:** Digunakan jika Anda ingin melakukan amalan dengan tingkat yang lebih lengkap atau sempurna, yaitu dengan menggabungkan antara **bacaan (tilawah)** dan **tulisan (kitabah)**.
* **Metode:** Wafaq ini ditulis bersama dengan doa dan *tawkil*-nya pada waktu yang ditentukan. Setelah selesai ditulis, kertas tersebut digantungkan pada dahan pohon delima (atau dahan yang baik) dan diasapi dengan dupa/gaharu sambil membacakan doanya.
### **2. Wafaq Al-Musabba' (Wafaq 7x7)**
Wafaq yang berada di bagian bawah (halaman kanan) disebut sebagai **Khatim al-Musabba'** (Segel Tujuh).
* **Fungsi Utama:** Wafaq ini menjadi alternatif atau bagian dari prosedur yang dijelaskan dalam teks untuk tujuan yang sama, namun dengan skala yang sedikit berbeda (tujuh kolom).
* **Metode:** Digunakan dalam tata cara yang melibatkan penulisan dan pengasapan (bukhur) sesuai dengan hari-hari tertentu (Senin dengan kafur, Selasa dengan kander, dst.).
---
### **Kegunaan Secara Umum (Konteks Amalan)**
Kedua wafaq ini merupakan "stempel" atau simbol spiritual yang digunakan untuk memperkuat hajat yang disebutkan dalam *tawkil* sebelumnya, di antaranya:
* **Tashkhir & Ruhaniyyah:** Mendekatkan diri pada aspek spiritual amalan tersebut dan menundukkannya untuk membantu hajat.
* **Qadha' al-Gharad:** Menyelesaikan berbagai macam urusan/hajat.
* **Ta'lif atau Tafriq:** Penulis menyebutkan secara umum bahwa ini bisa digunakan untuk tujuan keharmonisan (kasih sayang) maupun pemisahan (urusan yang mendesak), tergantung niat saat membaca *kadhā wa kadhā*.
> **Kesimpulan:** Perbedaan utamanya terletak pada **metode pengamalannya**. Wafaq 8x8 (Muthamman) cenderung digunakan untuk amalan yang lebih intensif (tulis + baca), sedangkan wafaq 7x7 (Musabba') digunakan mengikuti urutan hari dan jenis dupa tertentu yang dijelaskan di halaman kanan.
Apakah Anda ingin saya membantu mengidentifikasi jadwal penggunaan dupa berdasarkan hari yang tertulis di teks tersebut?
Komentar
Posting Komentar